Suara Yang Menyela

“Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian.” (Ayub 32:8)



Pembahasan: Ayub 32:1-22 | Ayat Bacaan: Ayub 31-32

Awal tahun 2024 lalu, publik di Indonesia menyaksikan perdebatan hangat antara generasi muda dan generasi senior mengenai kebijakan energi hijau. Sejumlah anak muda berani tampil di forum publik, menegur para pejabat senior yang dianggap lamban menghadapi krisis iklim. Walaupun sebagian menilai mereka terlalu emosional dan kurang berpengalaman, suara generasi muda ini menyuarakan keresahan nyata yang sering diabaikan. Kisah ini memperlihatkan bagaimana keberanian generasi baru bisa menantang arus pemikiran lama, meski tidak selalu sempurna.

Hal serupa tampak dalam kemunculan Elihu di pasal 32. Setelah ketiga sahabat Ayub bungkam, Elihu muda “menyala-nyala amarahnya” (ay. 2-5). Ia marah kepada Ayub karena merasa Ayub membenarkan diri lebih dari-pada Allah, dan marah kepada para sahabat karena gagal menjawab Ayub. Meski muda, Elihu berpendapat bahwa hikmat tidak hanya milik orang tua, melainkan diberikan oleh Roh Allah (ay. 8). Beberapa komentator mencatat, Elihu digambarkan seperti “kirbat anggur baru yang hampir meledak” (ay. 19), menegaskan dorongan kuatnya untuk berbicara. NIV Application Commentary menambahkan, Elihu memandang integritasnya terancam bila ia hanya diam atau sekadar menyanjung, sehingga ia memilih untuk berbicara jujur tanpa kompromi. Meskipun demikian, para komentator mengingatkan bahwa Elihu bukanlah jawaban final; ucapannya justru mempersiapkan panggung bagi Allah sendiri untuk berbicara.

Renungan ini menantang kita untuk mendengarkan suara generasi baru yang sering membawa perspektif segar, meskipun kadang terdengar kasar atau belum matang. Seperti Elihu, mereka bisa keliru, tetapi juga bisa dipakai Tuhan untuk menegur dan mengingatkan. Di sisi lain, kita juga diajak untuk berhati-hati agar semangat berbicara tidak mengalahkan kerendahan hati dalam mendengarkan Allah. Pada akhirnya, jawaban sejati bukan datang dari manusia, baik tua atau muda, melainkan dari Allah yang memberikan hikmat sejati.

STUDI PRIBADI: Apakah kita memberi ruang bagi suara generasi muda untuk dipakai Allah? Apakah kita sendiri berbicara dengan kerendahan hati dan hikmat dari Allah?

Pokok Doa: Gereja membuka telinga terhadap suara generasi baru, sambil tetap menguji segala sesuatu berdasar firman, sehingga hikmat sejati Roh Allah menuntun hidup bersama. Juga, generasi muda dipimpin Firman Allah.

×

Ayub 32:1-22

Elihu merasa juga berhak untuk mengemukakan pendapat

1 Maka ketiga orang itu menghentikan sanggahan mereka terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya benar.

2 Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah,

3 dan ia juga marah terhadap ketiga orang sahabat itu, karena mereka mempersalahkan Ayub, meskipun tidak dapat memberikan sanggahan.

4 Elihu menangguhkan bicaranya dengan Ayub, karena mereka lebih tua dari pada dia.

5 Tetapi setelah dilihatnya, bahwa mulut ketiga orang itu tidak lagi memberi sanggahan, maka marahlah ia.

6 Lalu berbicaralah Elihu bin Barakheel, orang Bus itu: "Aku masih muda dan kamu sudah berumur tinggi; oleh sebab itu aku malu dan takut mengemukakan pendapatku kepadamu.

7 Pikirku: Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang sudah banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat.

8 Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian.

9 Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan.

10 Oleh sebab itu aku berkata: Dengarkanlah aku, akupun akan mengemukakan pendapatku.

11 Ketahuilah, aku telah menantikan kata-katamu, aku telah memperhatikan pemikiranmu, hingga kamu menemukan kata-kata yang tepat.

12 Kepadamulah kupusatkan perhatianku, tetapi sesungguhnya, tiada seorangpun yang mengecam Ayub, tiada seorangpun di antara kamu menyanggah perkataannya.

13 Jangan berkata sekarang: Kami sudah mendapatkan hikmat; hanya Allah yang dapat mengalahkan dia, bukan manusia.

14 Perkataannya tidak tertuju kepadaku, dan aku tidak akan menjawabnya dengan perkataanmu.

15 Mereka bingung, mereka tidak dapat memberi sanggahan lagi, mereka tidak dapat berbicara lagi.

16 Haruskah aku menunggu, karena mereka putus bicara, karena mereka berdiri di sana dan tidak memberi sanggahan lagi?

17 Akupun hendak memberi sanggahan pada giliranku, akupun akan mengemukakan pendapatku.

18 Karena aku tumpat dengan kata-kata, semangat yang ada dalam diriku mendesak aku.

19 Sesungguhnya, batinku seperti anggur yang tidak mendapat jalan hawa, seperti kirbat baru yang akan meletup.

20 Aku harus berbicara, supaya merasa lega, aku harus membuka mulutku dan memberi sanggahan.

21 Aku tidak akan memihak kepada siapapun dan tidak akan menyanjung-nyanjung siapapun,

22 karena aku tidak tahu menyanjung-nyanjung; jika demikian, maka segera Pembuatku akan mencabut nyawaku."

×

Ayub 32:2-5

2 Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah,

3 dan ia juga marah terhadap ketiga orang sahabat itu, karena mereka mempersalahkan Ayub, meskipun tidak dapat memberikan sanggahan.

4 Elihu menangguhkan bicaranya dengan Ayub, karena mereka lebih tua dari pada dia.

5 Tetapi setelah dilihatnya, bahwa mulut ketiga orang itu tidak lagi memberi sanggahan, maka marahlah ia.

×

Ayub 32:8

8 Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian.

×

Ayub 32:19

19 Sesungguhnya, batinku seperti anggur yang tidak mendapat jalan hawa, seperti kirbat baru yang akan meletup.

×

Ayub 27:8

8 Karena apakah harapan orang durhaka, kalau Allah menghabisinya, kalau Ia menuntut nyawanya?

×

Ayub 24:23b-24

23b dan mengawasi jalan-jalannya.

24 Hanya sebentar mereka meninggikan diri, lalu tidak ada lagi; mereka luruh, lalu menjadi lisut seperti segala sesuatu, mereka dikerat seperti hulu tangkai gandum.

×

Ayub 24:23a

23a Allah memberinya keamanan yang menjadi sandarannya

×

Ayub 24:23b-24

23b dan mengawasi jalan-jalannya.

24 Hanya sebentar mereka meninggikan diri, lalu tidak ada lagi; mereka luruh, lalu menjadi lisut seperti segala sesuatu, mereka dikerat seperti hulu tangkai gandum.

×

Keluaran 31:1-5

1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

2 "Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda,

3 dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan,

4 untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga;

5 untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan.

×

Matius 6 : 33

33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

×

Yohanes 10 : 10b

10b Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Sharing Is Caring:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *