Pemberontakan Wasti

“Tetapi ratu Wasti menolak untuk menghadap menurut titah raja yang disampaikan oleh sida-sida itu, sehingga sangat geramlah raja dan berapi-apilah murkanya.” (Ester 1:12)



Pembahasan: Ester 1:1-22 | Ayat Bacaan: Ester 1

Raja dan Ratu Persia mengadakan perjamuan akbar. Sayangnya, dalam perjamuan itu, sebuah insiden terjadi. Ratu Wasti menolak hadir dalam perjamuan yang diadakan Raja Ahasyweros, sehingga raja marah kepadanya. Bagi pembaca pertama kitab Ester, hukuman atas penolakan Wasti ialah masuk akal. Pada masa itu, setiap laki-laki dianggap sebagai kepala dalam rumah tangga. Konsekuensinya, seorang istri, termasuk juga para ratu, harus sepenuhnya menaati suami mereka.

Akan tetapi, Wasti mungkin tidak sepenuhnya antagonis. Kekuasaan Ahsyweros atas sejumlah besar daerah nampaknya melahirkan semacam kebanggaan yang berlebihan di dalam dirinya. Pesta besar diadakan untuk merayakan kekuasaan, serta memamerkan kekayaan kerajaannya (ay. 4, 6-8). Selama enam bulan, pesta diadakan bagi para pembesar dan pegawai kerajaan (ay. 3)! Tak cukup sampai di sana, ia menambah tujuh hari lagi masa pesta bagi rakyat (ay. 5), serta pesta khusus perempuan di istana (ay. 9). Mabuk kekuasaan dan mabuk anggur membuat raja tiba-tiba berhasrat memamerkan juga istrinya (ay. 10-11). Tentu saja ratu menolak! Ia tidak mau dipertontonkan di hadapan para pria mabuk anggur (ay. 12).

Sayangnya, sang raja menjadi murka! Dalam keangkuhannya, raja tak sadar bahwa perintahnya mencerminkan sikap tidak menghormati istri dan merendahkan status Wasti sebagai ratu. Namun raja tidak peduli. Baginya, Wasti telah meruntuhkan harga dirinya sebagai raja di hadapan para tamu. Ia yang memiliki kuasa atas sejumlah besar bangsa, seolah tidak memiliki otoritas atas istrinya. Maka untuk menegakkan wibawanya, Ahasyweros memberhentikan Ratu Wasti dari statusnya sebagai permaisuri (ay. 19)!

Sikap Ahasyweros ini bertolak belakang dengan ajaran Alkitab tentang bagaimana umat Allah memperlakukan pasangannya. Istri bukan sekadar aset, apalagi manusia kurang sempurna; istri juga adalah gambar dan rupa Allah yang harus dikasihi. Karena itu, kita berdoa agar di tengah budaya patrilineal yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia, pria Kristen dapat melihat wanita sebagai mitra sejajar di hadapan Allah.

STUDI PRIBADI: “Istri juga adalah gambar dan rupa Allah.” Bagaimanakah kebenaran ini memengaruhi cara kita bersikap terhadap pasangan kita?

Pokok Doa: Doakan agar pasangan suami-istri Kristen terus hidup dalam sikap saling mengasihi dan saling tunduk.

×

Ester 1:4

4 Di samping itu baginda memamerkan kekayaan kemuliaan kerajaannya dan keindahan kebesarannya yang bersemarak, berhari-hari lamanya, sampai seratus delapan puluh hari.

×

Ester 1:6-8

6 Di situ tirai-mirai dari pada kain lenan, mori halus dan kain ungu tua, yang terikat dengan tali lenan halus dan ungu muda bergantung pada tombol-tombol perak di tiang-tiang marmar putih, sedang katil emas dan perak ditempatkan di atas lantai pualam, marmar putih, gewang dan pelinggam.

7 Minuman dihidangkan dalam piala emas yang beraneka warna, dan anggurnya ialah anggur minuman raja yang berlimpah-limpah, sebagaimana layak bagi raja.

8 Adapun aturan minum ialah: tiada dengan paksa; karena beginilah disyaratkan raja kepada semua bentara dalam, supaya mereka berbuat menurut keinginan tiap-tiap orang.

×

Ester 1:3

3 pada tahun yang ketiga dalam pemerintahannya, diadakanlah oleh baginda perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya; tentara Persia dan Media, kaum bangsawan dan pembesar daerah hadir di hadapan baginda.

×

Ester 1:5

5 Setelah genap hari-hari itu, maka raja mengadakan perjamuan lagi tujuh hari lamanya bagi seluruh rakyatnya yang terdapat di dalam benteng Susan, dari pada orang besar sampai kepada orang kecil, bertempat di pelataran yang ada di taman istana kerajaan.

×

Ester 1:9

9 Juga Wasti, sang ratu, mengadakan perjamuan bagi semua perempuan di dalam istana raja Ahasyweros.

×

Ester 1:10-11

10 Pada hari yang ketujuh, ketika raja riang gembira hatinya karena minum anggur, bertitahlah baginda kepada Mehuman, Bizta, Harbona, Bigta, Abagta, Zetar dan Karkas, yakni ketujuh sida-sida yang bertugas di hadapan raja Ahasyweros,

11 supaya mereka membawa Wasti, sang ratu, dengan memakai mahkota kerajaan, menghadap raja untuk memperlihatkan kecantikannya kepada sekalian rakyat dan pembesar-pembesar, karena sang ratu sangat elok rupanya.

×

Ester 1:12

12 Tetapi ratu Wasti menolak untuk menghadap menurut titah raja yang disampaikan oleh sida-sida itu, sehingga sangat geramlah raja dan berapi-apilah murkanya.

×

Ester 1:19

19 Jikalau baik pada pemandangan raja, hendaklah dikeluarkan suatu titah kerajaan dari hadapan baginda dan dituliskan di dalam undang-undang Persia dan Media, sehingga tidak dapat dicabut kembali, bahwa Wasti dilarang menghadap raja Ahasyweros, dan bahwa raja akan mengaruniakan kedudukannya sebagai ratu kepada orang lain yang lebih baik dari padanya.

×

Keluaran 31:1-5

1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

2 "Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda,

3 dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan,

4 untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga;

5 untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan.

×

Matius 6 : 33

33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

×

Yohanes 10 : 10b

10b Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Sharing Is Caring:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *